Rasulullah SAW Bersabda : Allah tidak akan membiarkan ummatku dalam kesesatan selamanya. Ikutilah As-Sawad Al-A’zhom. Tangan (rahmah dan perlindungan) Allah bersama jamaah. Barangsiapa menyendiri/menyempal, ia akan menyendiri/menyempal di dalam neraka. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas Juz 1 Hal 202 No. 398 dan dari Ibnu Umar juz 1 hal. 199 nomor 391 (Jami’ul Ahadits: 17.515)

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya # Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu # Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak ingin menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa # Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak ingin mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i - Beirut, page. 42]

تَعَلَّمْ يَا فَتَي فَإِنَّ الْجَهْلَ عَارٌ # وَلاَ يَرْضَي بِهِ إِلاَّ الْحِمَار
Belajarlah wahai pemuda, sesungguhnya kebodohan adalah aib # dan tidaklah ia ridho dengan kebodohan kecuali keledai

Minggu, 27 Januari 2013

Sekilas Tentang Mbah RADEN ALI (Shohibul Ngelom)

Sekilas Tentang 
Mbah RADEN ALI
(Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang)



Pengantar Penulis

Bismillahirrohmanirrohim
 
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Sayyid Muhammad dan mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawatullah wa salamuhu semoga tetap terlimpahkan kepada Beliau, junjungan kita, nabi besar sayyid Muhammad SAW, wa alihi, wa ashhabihi, wa azwajihi, wa dzurriyyatihi, wa ahli baitihil kirom.
Catatan ini sangatlah jauh untuk disebut sebagai Biografi Mbah Raden Ali. Sungguhpun demikian, adalah karna sangat sedikitnya data informasi dan catatan yang menceritakan tentang kehidupan Mbah Raden Ali yang penulis dapatkan sebagai acuan penulisan catatan ini. Semua itu disebabkan karna rentang jarak  waktu masa hidup Mbah Raden Ali dengan waktu penulisan catatan ini sangatlah jauh keterpautannya (kurang lebih selisih sekitar 170 tahun), sehingga orang-orang yang hidup satu kurun waktu dengan beliau, yang pernah bertemu dan mengenal beliau, yang dapat diambil keterangannya prihal Mbah Raden Ali, tidak lagi dapat dijumpai. Kecuali cerita dari mulut ke mulut, dan catatan  tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, serta beberapa catatan milik KH Sholeh Qosim, KH Anas, Agus Atiquddin Mustawa, dan Catatan milik Agus Dzofir Thohir yang kemudian pada akhirnya penulis jadikan sebagai acuan bahan penulisan catatan ini.
Kenyataan tersebut yang akhirnya menggugah hati penulis, tergerak untuk membukukan sejarah Mbah Raden Ali. Penulis berfikir, seiring dengan waktu yang terus berlalu, seandainya catatan tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris dan catatan tentang Mbah Raden Ali milik beberapa orang lainnya telah lapuk karna termakan usia sehingga tulisannya tidak lagi dapat terbaca, atau rusak karna tergerus  roda  waktu yang berputar,  sedangkan sejarah tentang Mbah Raden Ali belum sempat dibukukan atau sekedar disalin kembali, maka bukan tidak mungkin lagi, Mbah Raden Ali hanyalah akan menjadi sebuah nama Mbah Raden Ali belaka, yang tak satupun orang dan keturunannya bisa mengenal sejarahnya lagi. Dan bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengenang dan menghargai jasa para pahlawannya ?
Sadar akan hal itu, walau hanya dengan berbekal sedikit keterangan data dan informasi yang di himpun, akhirnya penulis memberanikan diri untuk membukukan kisah Mbah Raden Ali kedalam judul Sekilas Tentang Mbah Raden Ali Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang. Bukan dengan dan atas tujuan yang lain.
Akhirnya, marilah kita hadiahkan bacaan Surat Al Fatikhah kepada beliau, Mbah Raden  Ali  wa ushulihi wa furu’ihi, wa man intasaba ilaihi, wa man ahabba ilaihi, wa man zaro ila qobrihi, semoga Allah mensucikan jiwa dan ruhnya, Amin ya Rabbal Alamin, Al Fatihah : ……
                                                 



Pendahuluan
Sekilas profil tentang Raden Ali
                  Mbah Raden Ali adalah seorang ulama’ pembuka (babat) tanah Ngelom Pesantren pada sekitar tahun 1261 Hijriyyah, beliau juga seorang Waliyullah ahli Thariqah Syaththariyah, penyebar dan peletak dasar ajaran Islam yang berhaluan faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah di daerah Ngelom Sepanjang dan sekitarnya, Beliau juga The Founding Father (Mu’assis) Pondok Pesantren Salafiyah Bahauddin Ngelom Taman Sepanjang Sidoarjo.
                  Dalam tubuh Raden Ali mengalir darah  keturunan Kiangeng Selo atau Abdurrahman Al Masyhur  Bi Waliyyin  fi  Kullil  Balad (yang  dikenal oleh banyak orang disetiap negeri sebagai Waliyullah). Raden Ali dilahirkan dari seorang Ayah bernama Raden Mas Pangeran Kerthoyudo putra Sultan Agung Dipura, Ibunda Beliau bernama Raden Ayu Ibu, putri Raden Mas Kantri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Ronggo, Sultan Ngaloga.
                  Perjalanan hidupnya, semenjak kecil Raden Ali telah menjadi seorang anak yatim piatu. Ayahandanya Raden Mas Pangeran Kerthoyuda telah meninggal dunia ketika beliau masih berumur sepuluh bulan berada dalam kandungan Ibundanya. Kemudian ketika usia kandungan Sang Ibunda telah berumur sebelas bulan ia terlahir kedunia, namun tak lama kemudian sang Ibunda pun juga pergi menghadap Allahu Rabbul Izzati, sang Maha Kekal Abadi, meninggalkan Raden Ali kecil yang masih berumur satu bulan.
                  Hari demi hari terlewati, Raden Ali kecil tumbuh tanpa pernah menikmati damainya ayunan gendongan wanita yang telah melahirkannya, tak pernah mendengar merdunya dendang nina bobo sang Ibunda tercinta, juga tak pernah merasakan belai lembut tangan sang Ayahanda yang penuh kasih sayang mengusap kepalanya. Raden Ali kecil terus tumbuh menjadi dewasa, hidup dalam keprihatinan yang tak semestinya beliau alami  sebagai  seorang  keturunan  darah  biru, layaknya para putra bangsawan, keturunan  ningrat. Namun kenestapaan dan kepedihan hidup  yang dialami Raden Ali tidaklah membuat Raden Ali terpaku dalam keputus-asaan yang maha panjang, atau tersesat kejalan yang hitam yang tidak diridloi Allah SWT. Beliau tetap tegar dalam kesederhanaan, teguh memegang aqidah, tabah menjalani kehidupan, sabar menjalankan kewajiban sebagai hamba. (sabar adalah kunci segala kesuksesan, sabar dalam musibah adalah pakaian Nabi Ayyub, Sabar dalam ketaatan adalah hiasan Nabi Ibrahim, Sabar dalam menolak kemaksiyatan adalah mahkota Nabi Yusuf, Ketidak sabaran adalah yang mengakibatkan perpisahan antara Musa dan Khidir, Ketidak sabaran adalah penyebab kekalahan kaum muslimin dalam Uhud, Ketidak sabaran adalah penyebab berbagai kebaikan lepas dari genggaman).
              

                  Seiring terus berjalannya waktu, Raden Ali kecil terus tumbuh dewasa. Dalam pertumbuhannya, beliau telah berhasil memadukan beberapa aspek kepribadian dalam kehidupannya, kesederhanaan, keteguhan, kearifan, ketaqwaan, kreatifitas, kesabaran, tawakkal, zuhud, wara’, qana’ah, tawaddlu’ telah membentuk pribadi beliau menjadi sosok Raden Ali dewasa yang tegar, yang sehingga layaklah beliau disebut sebagai Khalifatullah Fil Ardl, mandataris Allah dimuka bumi ini.
Konon diceritakan, bahwa kebesaran nama Mbah Raden Ali telah banyak mengundang kedatangan para santri dari pelosok penjuru pulau Jawa untuk ngangsu kaweruh agama (menimba ilmu agama) pada Mbah Raden Ali, mulai dari Banten, Cirebon, serta masyarakat sekitar Sidoarjo-Surabaya, bahkan sampai Madura. Sayang, kebesaran nama beliau, tak ada satu pun sejarah yang mencatatnya, mencatat sejarah seorang tokoh Ulama besar sekaligus Waliyullah yang mempunyai banyak kelebihan atau karomah yang tidak banyak dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya.
                  Diantara Keanehan atau kalaulah boleh disebut sebagai karomah Mbah Raden Ali adalah, konon bila seseorang memasuki perkampungan Ngelom Pesantren dengan kendaraannya, kuda umpamanya sebagai salah satu kendaraan waktu itu, atau sepeda, atau sepeda motor, yang dengan sambil dikendarai atau ditunggangi, bukan turun dari kendaraan dan  menuntunnya  menyusuri  jalan,  maka yang terjadi, pantat sang penunggang atau pengendara akan terus lengket dan melekat di tempat duduk kendaraannya, dan tidak akan pernah bisa dilepaskan sampai ia meminta maaf pada Mbah Raden Ali.
                  Sepenggal kisah yang lain juga pernah menceritakan, bahwa setiap kali ada rombongan kesenian yang melewati daerah Ngelom Pesantren yang sambil membunyikan suara musik tabuhan gamelan atau semacamnya, ketika sudah memasuki daerah Ngelom Pesantren, maka semua alat musiknya tidak dapat mengeluarkan bunyi-bunyian atau suara ketika ditabuh atau dibunyikan, sampai rombongan itu benar-benar keluar dari daerah atau wilayah Ngelom Pesantren.
                  Ada lagi kisah yang lain, diantara salah satu putra Raden Ali adalah yang bernama Jaya Ulama, yang dikenal pada masa mudanya sebagai berandal yang sering kali merampok setiap pedagang atau saudagar yang melewati wilayah sepanjang dan sekitarnya. Berita tentang sikap berandal yang dimiliki Jaya Ulama, lambat laun akhirnya terdengar juga ditelinga Raden Ali. Kemudian dengan diam-diam Raden Ali menyusun sebuah rencana penyamaran sebagai saudagar yang melewati daerah Ngelom Sepanjang dengan membawa pedati yang berisi tumpukan lantakan emas dan berlian yang entah didapatkan dari mana oleh Raden Ali waktu itu. Selanjutnya, sesuai dengan rencana, ketika Raden Ali yang kala itu dengan memakai cadar penutup muka bersama dengan pedati yang membawa lantakan emas serta berlian melewati daerah Ngelom Sepanjang, pedati itupun dicegat dan direbut paksa oleh Jaya Ulama. Namun tidak dengan mudahnya begitu saja Raden Ali menyerahkan harta bawaannya kepada Jaya Ulama. Akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka, yang kemudian sebuah tebasan pedang Jaya Ulama mengenai tubuh Raden Ali. Bukan karna Raden Ali kalah oleh Jaya Ulama, tapi memang sengaja hal itu dilakukan oleh Raden Ali. Dan ketika tebasan pedang Jaya Ulama berbenturan dengan tubuh Raden Ali, terlihatlah seperti sebuah kilatan cahaya memancar dari tubuh Raden Ali. Namun perkelahian terus berlanjut, sampai pada akhirnya disuatu kesempatan dalam perkelahian itu, dibiarkannya tangan Jaya Ulama meraih dan menarik cadar penutup muka Raden Ali. Kaget setelah tahu bahwa yang berhadapan dengannya adalah Raden Ali Ayahandanya, Jaya Ulama kemudian duduk bersimpuh, memohon ampun pada Ayahandanya dan bertaubat dari segala prilakunya yang tidak baik, yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
                  Karomah beliau yang lain (ba’dal mamat) yang sering tampak adalah, seringkali bagi para peziarah makam Mbah Raden Ali (walau tidak semua peziarah), ketika mereka sedang berziarah di waktu malam hari, mereka seringkali dapat melihat macan putih atau kuda putih disekitar makam beliau (macan putih dan kuda putih adalah symbol kebesaran, keperkasaan dan kemulyaan para Wali Allah). Konon juga sering di ceritakan manakala ada burung pipit atau burung lainnya yang terbang dan tiba-tiba melintas diatas makam beliau, pasti akan jatuh dan mati terkapar diatas tanah.


SILSILAH
MBAH RADEN ALI
PEMBUKA/BABAT TANAH
NGELOM PESANTREN
                  Menurut catatan Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, dan beberapa catatan para sesepuh Ngelom Pesantren, asal usul silsilah Mbah Raden Ali adalah sebagai berikut :
1.      Abdurrahman (Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyin fi kullil Balad).
Menurut beberapa sumber dari catatan silsilah raja-raja Mataram, Abdurrahman disini adalah Kiageng Selo. Dan menurut  catatan Para leluhur Ngelom Pesantren Abdurrahman atau Kiageng Selo adalah juga Abdurrahman Assegaf Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyil Quthbi fi kullil Balad. Sedangkan Kebenarannya adalah Wallohu a’lamu biha.
Beliau menurunkan :
2.      Abdullah
Beliau menurunkan :
3.      Raden Mas Salim
(Al Masyhur Raden Mas Salim Pemanahan)
Alkisah, beliau mengabdikan diri di kesultanan Pajang sebagai Lurah Tamtama.
Beliau menurunkan :
4.      Al Kabir Al Khoir Al Aziz Abi Bakar
(Al Masyhur Raden Mas Ngabehi/ Senopati Sutawijaya / Sultan Mataram).
Alkisah, beliau diangkat putra oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang, dan kemudian pada akhirnya diambil menantu oleh Sultan Hadiwijaya.
Wafat dimakamkan di Imogiri Yogyakarta
Beliau menurunkan :
a.     Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang)
b.    Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad
      (Al Masyhur Raden  Ronggo/Sultan Ngaloga).  
      Beliau menurunkan :
Husein (Al Masyhur Sultan Amangkurat I Kertasura). Wafat dimakam kan di Tegal Arum Pekalongan.
Beliau menurunkan :
1.      Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger)    
2.      Sunan Amangkurat (Al Masyhur Sultan Amangkurat  II).
Beliau menurunkan :
Pangeran Amangkurat Mas (Al Masyhur Sultan Amangkurat  III)
Alkisah, oleh karena Pangeran Amangkurat Mas (Sultan Amangkurat III) tiba tiba menghilang tidak diketahui kemana perginya maka kesultanan Mataram digantikan oleh paman beliau yaitu Sayyid Syarif Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger) yang kemudian bergelar Pangeran Hamengku Buwono yang pertama.
3.   Raden Ayu Samilah.
5.   Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang).
      Beliau menurunkan :
6.   Sultan Agung Purbaya
      Beliau menurunkan :
7.   Pangeran Jurunata Purbaya
Al kisah, Pangeran Jurunata Purbaya diambil menantu oleh Sunan Amangkurat Mas, diperistrikan putri beliau yang bernama Raden Ayu Samilah.
      Beliau menurunkan :
8.   Sultan Agung Dipura
      Beliau menurunkan :
a.      Raden Mas Pangeran Kerthonadi
Menurunkan Raden Ayu Robi’ah yang kemudian diperistri Seorang Cina beragama Islam bernama Baba Teksu
b.      Raden Mas Pangeran Kerthoyuda
c.       Raden Ayu Kendung
9.      Raden Mas Pengeran Kerthoyuda.
Wafat dimakamkan di Sekar Kenongo.
Raden Mas Pangeran Kerthoyuda adalah seorang Ahli Thoriqoh Saththoriyah yang suka mengembara. Beliau merantau ke desa Suropringgo (sekarang Surabaya) dengan berjalan kaki, diceritakan bahwa karna begitu lama dan jauhnya perjalanan yang ditempuh, jarit/sarung yang dipakai oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyuda hingga robek dan compang-camping. Kemudian setelah sampai di Suropringgo tepatnya didesa lempuyangan, beliau berhenti dan bertamu ke rumah Raden Mas Kantri (Al Masyhur Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Raden Mas Ronggo Alkaromah Al Akbar Al Khoir Ahmad/Sultan Ngaloga), yang diberi kekuasaan untuk mengatur pemerintahan di daerah Suropringgo (Surabaya) bersama sebelas rekan beliau.
                  Kemudian Sesampainya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berada dan bertamu di rumah Raden Mas Umbul Suwelas, terjadilah percakapan diantara beliau yang pada saat itu belum saling mengenal. Raden Mas Umbul bertanya : “ Siapakah kisanak ini ? dan Siapakah leluhur kisanak, kok datang kemari tanpa ada yang menemani ?”. Jawab Raden Mas Pangeran Kerthoyuda memperkenalkan diri,“Kulo (saya)  adalah Mas  Pangeran Kerthoyudo, putra Pangeran Agung Dipura”. Mendengar itu, Raden Mas Umbul merasa bahagia karna bisa bertemu dengan kerabatnya di daerah rantau : “Duh Sanak kadang, Saya adalah keturunan Senopati Ngaloga, Ramanda  adalah  Raden  Ronggo Sultan  Mentawis (Mataram). Saya beserta Sebelas rekan saya ditugaskan oleh Ramanda untuk mengatur pemerintahan di daerah Surabaya, dan kebetulan saya adalah yang bertanggung jawab didaerah dalam Kota Suropringgo (Surabaya)  ini”.
Singkat kata, di akhir pembicaraan, Raden Mas Umbul meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo agar berkenan menikahi putri ragil beliau yang bernama Raden Ayu Ibu., yang pada saat itu berumur sembilan belas tahun. Menjawab akan permintaan Raden Mas Umbul, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkata : “Jika itu adalah kehendak dan dapat membahagiakan sampeyan, saya ikut kehendak sampeyan saja”.
            Maka pada tanggal 11 bulan Robi’ul Akhir di tahun Dal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah  dengan  Raden  Ayu Ibu,  putri  dari  Raden Mas Umbul/Raden Mas Kantri.
Seiring berjalannya waktu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah dengan Raden Ayu Ibu, ternyata lambat laun Raden Mas Pangeran Kerthoyudo mengalami ketidak cocokan dengan mertua beliau, yang pada akhirnya menyebabkan Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk pergi mengembara lagi bersama istrinya.
                  Dalam pengembaraannya, beliau menuju keutara-selatan, yang akhirnya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya tiba di desa Semolo dan bertemu dengan seseorang yang pada saat itu sedang menuntun seekor sapi. Segera Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bertanya : “Siapakah nama kisanak dan dimana Rumah Sampeyan ?” Sang penuntun sapi menjawab : “Nama saya Gibah,  rumah saya  berada di dusun Prapen”. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo melanjutkan bicaranya : “kalau begitu saya mau tutwuri (ikut)  sampeyan  saja,  saya  sudah  sangat lelah, barangkali sampeyan punya air sekedar untuk saya minum”. Walhasil Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan istrinya dipersilahkan oleh Kyai Gibah datang ke rumah beliau untuk makan dan minum seadanya.
           Setelah makan dan minum, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan Kyai Gibah kemudian bercakap-cakap kembali, saling memperkenalkan diri lebih jauh. Dalam percakapan tersebut akhirnya Kyai Gibah meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo untuk menetap di rumahnya, “Sampean (Raden Mas Pangeran Kerthoyudo) jangan pergi kemana-mana, tinggal saja dirumah saya bila Sampeyan berkenan dan kerasan, saya ingin sampeyan mengajarkan ilmu agama kepada saya, sebab saya  senang dan  bahagia sekali bisa dekat dan memperdalam ilmu ibadah pada sampeyan” kata Kyai Gibah pada Raden Mas Pangeran Kerthoyuda.
   Selanjutnya, menetaplah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya di dusun prapen, tepatnya di rumah Kyai Gibah, sambil mengajarkan ilmu agama islam dan dzikir Thariqoh Syaththariyah kepada Kyai Gibah dan istrinya.
            Waktu terus berjalan, akhirnya istri Raden Mas Pangeran Kerthoyudo (Raden Ayu Ibu) mengandung putra pertamanya. Dan ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sepuluh bulan, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk sambang ke negeri Kertasura (itupun  setelah  meminta  persetujuan  dari  istri  beliau untuk ditinggal di dusun prapen di rumah Kyai Gibah). Kepada Kyai Gibah beliau menitipkan istrinya selama ditinggal sementara waktu, “mungkin sekitar enam puluh hari saya sudah kembali lagi di dusun Prapen” kata Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada Kyai Gibah. “Inggih, dido’akan saja, Mudah-mudahan saya diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjaga dan ngopeni (menghidupi) istri  Raden  Mas”, begitu jawab Kyai Gibah. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo juga berpesan kepada Kyai Gibah : “Apabila suatu saat istri saya melahirkan anak laki-laki, maka berilah nama Raden Ali, dan jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan maka terserah sampeyan untuk memberi nama”.
              Sepeninggal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo, Raden Ayu Ibu merasa  hari-harinya gundah gulana, kesepian karna ditinggal suami tercintanya pulang ke negeri Kertasura.
              Sementara itu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo telah sampai di Kertasura, tak lama kemudian beliau meninggal dunia di sana, dan kemudian dimakamkan di dusun Sekar Kenongo.
   Sementara itu pula, ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sebelas bulan, beliau melahirkan seorang putra laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Ali, seperti yang telah diamanatkan oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada istri tercintanya dan Kyai Gibah.
10. Raden Ali (Al Masyhur Mbah Raden Ali)
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren Taman Sepanjang.

            Alkisah, Ketika Raden Ali kecil menginjak umur satu bulan, Raden Ayu Ibu meninggal dunia. Kemudian Raden Ali kecil diasuh oleh Kyai Gibah dan  istrinya. Saat mengasuh  Raden  Ali  kecil,  Kyai Gibah bersama istrinya senantiasa merasa bahagia, terlebih sejak kecil Raden Ali tidak pernah mengalami sakit-sakitan. Pun juga, Kyai Gibah merasa ada yang istimewa ketika mengasuh Raden Ali kecil, tanaman mentimunnya    selalu   panen    dengan   hasil    yang melimpah, rizkinya pun semakin hari semakin bertambah banyak pula.
            Semenjak kecil Raden Ali telah memiliki sifat menjauhi cinta dunyo brono (harta dunia). Kemudian setelah Raden Ali beranjak dewasa beliau melakukan puasa riyadloh, dan berkhalwat di dusun Bendul Surabaya. Tiap hari beliau tidak banyak merasakan tidur, tidak pula banyak makan. Hari-hari beliau jalani dengan berpuasa. Kalaupun beliau harus tidur, beliau tidur diatas rakitan bambu berbantal kayu. 
            Suatu ketika, saat Raden Ali telah berkeluarga namun masih belum dikaruniai putra, beliau mempunyai seorang santri (murid) yang bernama Jamal, yang diberi tugas oleh beliau untuk merawat dan menanam berbagai tanaman palawija di tanah milik Raden Ali, seperti cabe, terong, kerai, dan kacang kacangan. Namun anehnya, ketika tanaman tersebut telah masak dan siap untuk dipetik, justru beliau diperintah oleh Raden Ali untuk segera mengumumkan kepada warga masyarakat, barang siapa yang berkenan dan menghendaki hasil tanamannya agar memetik sendiri.
            Selanjutnya Raden Ali menetap  dan mendirikan pesantren di dusun Ngelom Sepanjang Taman Sidoarjo (sebuah kawasan atau daerah yang waktu itu berada dalam kekuasaan Adipati Jenggala), yang kemudian pada perkembangannya, akhirnya   Ngelom dikenal sebagai pusat awal perkembangan Islam di daerah Sekitarnya. Raden Ali wafat dan dimakamkan di dusun Ngelom Pesantren, kecamatan Taman  Sepanjang.  Dan   dari  seorang   istri, Mbah Raden Ali menurunkan 7 keturunan, 4 putra dan 3 putri  : 
1.      Bahauddin
Alkisah, ketika Bahauddin merantau, dalam rangka thalabul ilmi di kota Makkah Al Mukarramah, beliau meninggal dunia dan dimakamkan disana. Kemudian selanjutnya, untuk mengenang nama putra Mbah Raden Ali yang wafat di kota Makkah Al Mukarramah, maka masjid dan yayasan pondok pesantren di Ngelom diberi nama Bahauddin.
2.      Ahmad Rifa’i
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
3.      Abu Hasan
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
4.     Jaya Ulama
Alkisah, Jaya Ulama telah diberi izin oleh  Adipati Suropringgo  pada waktu itu, untuk mengajar ilmu agama di kota Suropringgo (Surabaya). Jaya Ulama mempunyai  seorang  putra  bernama  Mas  Ngabehi  Sumo  Direjo  yang  kemudian  diangkat menjadi adipati  di  kota  Suropringgo  (Surabaya) dikemudian hari. Jaya Ulama wafat dimakamkan didesa Wonocolo sepanjang.
5.      Sanifah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
6.      Talbiyah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
7.      Sahinah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
Lokasi Kompleks
Makam Mbah Raden Ali
            Kullu Nafsin Dza’iqotul Maut, setiap yang bernafas pasti akan mengalami sesuatu yang disebut kematian. Tak ada satu pun di dunia ini yang akan kekal abadi. Bagi para Pendosa Musyrikin, kematian adalah pintu menuju siksa dan pesakitan abadi. Tapi sebaliknya, kematian bagi para Waliyullah adalah pintu yang mengantarkankannya menuju ruang kebahagiaan dan kedamaian yang hakiky serta abadi. Kematian bagi para Wali Allah adalah satu-satunya jalan untuk mengobati kerinduan perjumpaan    dengan Sang   Maha   Kasih.  Dan apakah ada yang dapat menandingi kenikmatan dan kebahagiaan bagi sang pecinta yang    memendam kerinduan selain berjumpa dengan sang kekasih, Allohu Rabbul Izzati ?. Karenanya, di bibir mereka selalu terlukis senyuman, manakala kematian menjemputnya. Tapi tidak bagi yang ditinggalkan, hujan air mata, dan duka karna ditinggalkan, pasti akan terasa menyesakkan dada. Mbah Raden Ali telah tiada, meninggalkan kita semua.
Tak ada satu catatan pun ditemukan yang menulis cerita tentang tahun, bulan, tanggal dan hari wafat Mbah Raden Ali. Akan tetapi dapat diketahui dari berita turun temurun yang disampaikan dari  mulut  ke mulut yang menyatakan bahwa Mbah Raden Ali meninggal  pada   bulan   Sya’ban    hari    ke    ketujuh  belas. Sedangkan mengenai tahun wafat beliau, informasi yang diterima oleh penulis dari beberapa orang, ternyata banyak terjadi perbedaan pendapat, yang semuanya tidak bisa dipertanggung jawabkan akurasi kebenarannya.
Jenazah Mbah Raden Ali di semayamkan di Kompleks pemakaman keluarga, di desa Ngelom Pesantren Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, tepatnya berada di sebelah selatan    Masjid   Bahauddin,   depan    Madrasah
Aliyah Bahauddin Ngelom.
                  Adapun akses jalan menuju pemakaman Mbah Raden Ali tidaklah banyak ditemukan kesulitan. Sebab Ngelom Pesantren adalah desa yang dilewati oleh jalan protokol yang menghubungkan antara Surabaya-Sepanjang, atau Sepanjang-Sidoarjo.
 
Sumber: http://darulmutaallimin1.blogspot.com/2012/05/sekilas-tentang-mbah-raden-ali-ngelom.html

Senin, 21 Januari 2013

Perayaan Maulidur Rasul

Alhamdulillah, dengan rasa syukur aku panjatkan kehadirat Allah SWT, yang pada saat ini kita masih dipertemukan dibulan baginda sayyiduna Muhammad dilahirkan. Sebab Rahmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita, Sepatutnya kita bergembira, bersuka cita, dan bersyukur kepada Allah atas kehadiran dan diutusnya Beliau untuk kita semua, sebagaimana yang telah difirmankan Allah di dalam kitab Al-Qur’an yang mulya:
وَقَالَ اللّهُ تَعَالى  :  قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: katakanlah (Muhammad) dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (Q.S Yunus:58)
    Bulan Robi’ul awwal adalah bulan dari beberapa bulan-bulan Hijriyyah, pada bulan tersebut baginda dilahirkan. Di dalam sejarah kita akan menjumpai bahwa bulan tersebut bukanlah bulan-bulan yang di dalamnya tidak ada peristiwa besar di kalangan orang arab, bukan pula dari bulan-bulan yang mulya, bukan pula bulan untuk berpuasa, bukan pula bulan untuk beribadah, bukan pula bulan untuk menunaikan haji, bukan pula bulan untuk melaksanakan umroh, bukan pula bulan seperti bulan Ramadan. Akan tetapi kenapa beliau tidak dilahirkan pada bulan-bulan hurum? Padahal bulan robi’ul awwal adalah bulan yang tidak punya keistimewaan, bulan yang tidak dianggap agung oleh kalangan orang-orang arab pada masa dulu. Ternyata Allah SWT telah menentukan atas kelahiran beliau pada bulan tersebut untuk menunjukkan karunia-Nya dan keutamaan serta kemulyaan baginda Rasulullah Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Sebab atas kelahiran beliau pada bulan terebut, bulan itu menjadi/termasuk bulan yang mulia lantaran lahirnya beliau, bukan karena yang lain. Seandainya beliau dilahirkan pada bulan-bulan hurum, seperti bulan muharram, maka tidak akan Nampak kemulyaan beliau, karena bulan itu menjadi mulya/agung bukan lantaran lahirnya beliau, akan tetapi bulan itu menjadi mulya lantaran pada bulan tersebut telah terjadi peristiwa-peristiwa besar pada masa lampaunya dan telah ma’ruuf dikalangan orang-orang arab, begitu juga bulan-bulan hurum yang lain.
    Kenapa beliau juga dilahirkan tepat pada hari senin? Dimana hari tersebut bukan dari hari-hari yang mulya dan ma’ruuf dikalangan orang-orang arab. Kenapa beliau tidak dilahirkan pada Hari jum’ah, hari yang mulya dikalangan orang-orang arab, tidak dilahirkan pada hari ahad, hari yang mulya dikalangan orang-orang nasrani, tidak pula dilahirkan pada hari sabtu, hari mulya dikalangan orang-orang yahudi pada saat itu. Bahkan baginda dilahirkan pada hari senin, hari yang tidak mempunyai keutamaan dan kema’ruufan dikalangan orang arab. Begitulah Allah menampakkan rahmat dan karunia-Nya untuk memulyakan beliau, dengan lahirnya baginda pada hari senin, hari itu menjadi mulya dan ma’ruuf baik dikalangan orang arab maupun kalangan non arab.
    Dari uraian-uraian di atas, kita dapat memahami bahwa Allah SWT sangat memulyakan Sayyiduna Rasulullah Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Allah saja memulyakan beliau, Bagaimana dengan kita????
    Tak cukup sampai disitu, Allah juga memulyakan dan merayakan atas kelahiran Rasulullah sebagaimana nas-nas dibawah ini:
1.    Rasulullah lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala Shahihain hadits No.4177)
2.    Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang - bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang - benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang  benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
3.    Ketika Rasul saw lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).
4.    Riwayat Shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saat melahirkan Nabi melihat cahaya yang terang - benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583).
5.    Pada Malam kelahiran beliau runtuhlah singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583).

Merayakan hari kelahiran itu boleh-boleh saja, karena tidak ada nas yang melarangnya, dan itupun termasuk sifat dari beberapa sifat manusia, selama itu tidak berlawanan dari ajaran-ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam (Syari’at). Bahkan, jika itu membawa kebaikan dan kemaslahatan, maka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Lebih-lebih merayakan hari kelahiran Sayyiduna Rasulullah Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang sudah dilakukan oleh para ulama’-ulama’ salaf terdahulu seperti:

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasulullah bertanya, maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164)


2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman - teman dan saudara - saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama :
“Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.


7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurunkan Rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi
Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”
Dalam hal ini Imam Ibnu katsir  memuji Raja Mudhaffar Abu Sa’id Al-Kukburi sebagai berikut :
وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا
وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه
“Dan dia [Raja Mudhaffar] menyelenggarakan Maulid yang mulia di bulan Rabi’ul awwal secara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang cerdas, pemberani kesatria, pandai, dan adil, semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik” [Lihat Kitab Bidayah wan-Nihayah 13 :136]
Ibnu Katsir juga berkata :
إن أول من أرضعته صلى الله عليه وسلم هي ثويبة مولاة أبي لهب وكان قد أعتقها حين بشرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم. ولهذا لما رآه أخوه العباس بعد موته في المنام بعدما رآه بشر خيبة، سأله: ما لقيت؟ قال: لم ألق بعدكم خيراً غير أني سقيت في هذه بعتاقتي لثويبة (وأشار إلى النقرة التي بين الإبهام والتي تليها من الأصابع).
“Sesungguhnya orang pertama kali menyusui Nabi SAW adalah Tsuwaybah yaitu budak perempuan Abu Lahab, dan ia telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Abu Lahab ketika Abu Lahab gembira dengan kelahiran Nabi SAW, karena demikian setelah meninggal Abu Lahab, salah seorang saudaranya yaitu Abbas melihatnya dalam mimpi, salah seorang familinya bermimpi melihat ia dalam keadaan yang sangat buruk,
dan Abbas bertanya : “Apa yang engkau dapatkan ?”
Abu Lahab menjawab : “Sejak aku tinggalkan kalian [mati], aku tidak pernah mendapat kebaikan sama sekali, selain aku diberi minuman di sini [Abu Lahab menunjukkan ruang antara ibu jarinya dan jari yang lain] karena aku memerdekaan Tsuwaybah”. [Lihat kitab Bidayah wan-Nihayah 2 : 272-273, kitab Sirah Al-Nabawiyah 1 :124, kitab Maulid Ibnu Katsir 21].
Ibnu Katsir mengagungkan malam Maulid Nabi, berikut kata beliau :
إن ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانت ليلة شريفة عظيمة مباركة سعيدة على المؤمنين، طاهرة، ظاهرة الأنوار جليلة المقدار
“Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”. [Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19]
13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy
Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan Ibn Diba’
Dengan maulidnya addiba’i
18. Imam Ibn Hajar Al Haitsami
Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri
Mengarang hasiah atas maulid Ibn Hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’
Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
Dengan maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
27. Syihabuddin Al Halwani
Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiy
Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi
Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
    31. Ibnu Taimiyyah juga mengutarakan pendapatnya tentang Maulidur Rasul
Ibnu Taymiyah berkata :
فتعظيم المولد واتخاذه موسمًا قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه واله وسلم
“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Iqtidha' Shirathil Mustaqim : 297].
Ibnu Taymiyah juga berkata :
فتعظيم المولد واتخاذه موسماً قد يفعله بعض الناس ويكون لهم فيه أجر عظيم لحسن قصدهم وتعظيمهم لرسول الله صلى الله عليه وسلم
“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Majmu' Fatawa 23: 134].


    Disebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim hadis yang ke 1162 diterangkan bahwa Ketika beliau ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan”

    Bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Berkata Abbas bin Abdulmuttalib RA: “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan.., maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas RA memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang - benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits No.5417)

    Perayaan maulidur rasul telah berjalan cukup lama, yang sampai saat ini kita masih merayakannya dengan cara yang haq (tidak menyimpang dari syari’at). Sebenarnya siapa sich pencetus maulidur rasul?? Jawabannya ada diatas, yakni sang Khaliq pertama kali yang merayakan kelahiran beliau. Perayaan maulid banyak berbagai cara, Allah merayakan maulidur rasul dengan cara yang dasyat dan dengan berbagai cara yang telah disebutkan diatas, Rasulullah merayakan maulid dengan cara berpuasa sebagaimana ucapan beliau ketika ditanya tentang puasa hari senin dan beliau menjawab “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan”, para sahabat merayakan maulid dengan cara pujian-pujian kepada beliau sebagaimana yang tertulis di Mustadrak ‘ala Shahihain hadits No.5417, dan para ulama’ salaf pun mempunyai cara merayakan maulid yang sampai saat ini kita amalkan.

    Ayyuhal ikhwan…, siapa saja yang merasa gembira, senang, suka cita atas kelahiran beliau dengan cara apapun yang sesuai dengan syari’at, kelak akan mendapatkan pahalanya, lihat bagaimana abu lahab mendapat keringanan akan siksaannya pada setiap hari senin dengan sebab merayakan kelahiran beliau dengan cara membebaskan budaknya tsuwaibah:

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits No.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits No.13701, Syi’bul Iman No.281, Fathul Baari Almasyhur juz 11 hal 431).

    Setalah kita mengetahui nas-nas diatas kesemuanya, apa yang kita ragukan dalam merayakan maulidur rasul?, mari kita marakkan maulid beliau dengan cara yang haq (tidak bertentangan dengan syariat), kita pahami kehidupan beliau, ucapan, prilaku dan kesehari-harian beliau.

    Ayyuhal ikhwan…., waspadailah manhaj-manhaj yang dapat memecah belah ummat, yang mana mereka mengaku sebagai ahlu sunnah, pendapat merekalah yang paling benar dan yang lain salah, kerjaannya suka menyesatkan dan mengkafirkan sesama ahli qiblah, anehnya mereka, YANG SESAT DIANGGAP PERBEDAAN BIASA, YANG PERBEDAAN BIASA DIANGGAP SESAT, itulah keanehan mereka, seharusnya yang sesat harus dianggap sesat, yang nyata-nyata kafir harus dikafirkan, dan kalaw berbeda pendapat hendaknya mereka menghargai, bukannya menghujat, menyesatkan, bahkan mengkafirkan, astaghfirullah……. Apa mereka itu buta?? Buta hati dan buta mata, hatinya tidak punya rasa toleransi, matanya hanya memandang kesalahan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Bukankah Allah telah berfirman dalam surat Ali Imron ayat 102:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (Agama) Allah, dan janganlah kalian itu bercerai berai.”

    Dalam sabda Rasulullah juga telah diingatkan akan pentingnya persaudaraan kita sesama orang mukmin. Sebagaimana yang telah diriwaytakan oleh Imam bukhari dan Imam Muslim:
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه  قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم- المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

Artinya: “Dari Abu Musa Al-Asy’ari RA berkata: Bersabdalah Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam: Orang mukmin dengan mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling mengkokohkan/menguatkan. ”

    Akan tetapi, kenapa dengan mereka-mereka itu? Apa mereka tidak menginginkan persaudaraan? Apa mau mereka?. Terus bagaimana kita menyikapi mereka? Yang harus kita lakukan adalah, biarkanlah mereka, kalaw kita mengajak mereka berdebat/berdiskusi/bertukar pikiran pasti tidak akan pernah berhenti, kenapa? Karena KEEGOISAN MEREKA SENDIRI YANG TIDAK MAU MENERIMA PENDAPAT ORANG LAIN SESAMA MUSLIM. Anggap saja ucapan-ucapan yang menyesatkan kita  itu seperti angin yang berlalu. Jika saja kalian meladeni sekali, niscaya yang ada hanya bertambah rasa kebencian, permusuhan, dan tidak akan terselesaikan. Kita hanya bisa berdo’a kepada sang Khaliq untuk saudara kita, semoga saja Allah memberikan hidayah dan inayah-Nya kepada mereka, sehingga mereka mau menerima perbedaan pendapat orang lain, serta menghargainya, karena musuh kita yang sebenarnya adalah orang-orang kafir yang menginjak-injak Agama Allah……

    Sebagai penutup, saya mengajak kepada Anda sekalian dan diri saya pribadi untuk selalu mengingat dan berpegang teguh dengan surat Ali Imron ayat 102 dan Hadis diatas untuk selalu mengamalkannya, jaga persaudaraan kita, dan bersikap adillah kepada siapapun, baik lawan lebih-lebih kepada kawan….


Wassalam ……..

Kamis, 17 Januari 2013

CARA IMAM MALIK BERDOA DI MAKAM NABI SAW

Luthfi Bashori


 

Menurut para ulama Salaf, bahwa disunnahkan bagi orang yang berziarah ke makam kuburan Nabi SAW untuk berdiri menghadap makam beliau SAW, lantas berdoa kepada Allah memohon kebaikan dan kemuliaan. Di saat berdoa di makam kuburan Nabi SAW ini tidak diharuskan menghadap Qiblat. Bahkan berdiri di hadapan makam kuburajn Nabi SAW itu bukanlah perbuatan bid’ah dhalalah, apalagi syirik.

Di dalam kitab Assyifa fit ta’rifi bihuquqil musthafa, karya Al-imam Al-Qadli Iyadl Alyahsubi diterangkan pada bab Ziarah dengan sanad beliau sebagaimana berikut:

Suatu saat Imam malik berdialog dengan Amirul mukminin Abu Ja`far Almanshur di Masjid Nabawi Madinah:

IMAM MALIK : Wahai Amirul mukminin, janganlah engkau angkat suaramu di dalam Masjid ini, karena Allah mengajari umat dengan firman-Nya yang artinya: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. / QS. Hujurat, ayat 2). Di sisi lain Allah memuji sekelompok umat dengan firman-Nya yang artinya: (Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka adalah ampunan dan pahala yang besar. / QS. Alhujurat, ayat 3). Allah juga mencela sekelompok umat dengan firman-Nya yang artinya: (Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu), kebanyakan mereka tidak mengerti. /QS. Hujurat, ayat 4). Sesungguhnya status pengangkatan suara melebihi suara Nabi SAW itu sama saja hukum keharamannya itu baik di saat beliau SAW sudah wafat maupun di saat beliau SAW masih hidup.

ALMANSHUR : (dalam keadaan tenang dan nyaman setelah mendengar nasehat), Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), apakah aku menghadap Qiblat saat berdoa atau aku menghadap ke makam Rasulullah SAW ?

IMAM MALIK : Mengapa engkau akan memalingkan wajahmu dari beliau SAW, sedangkan beliau SAW itu adalah wasilah (perantara dan penolong)-mu dan wasilah bapakmu Nabi Adam Alaihis salam kepada Allah di hari Qiamat? Maka menghadaplah kepada beliau SAW dan mohonlah syafaat dengannya, niscaya Allah akan menolongmu. Allah berfirman yang artinya: (Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. / QS. Annisa, ayat 64).

Berkata Syeikh Ibnu Taimiyah : Saat meriwayatkan dari Imam Malik, Ibnu Wahbin berkata: Apabila seseorang mengucapkan salam kepada Nabi SAW (saat berziarah), hendaklah ia berdiri menghadap makam kuburan Nabi SAW, bukan menghadap Qiblat, lantas mendekatkan dirinya ke makam seraya berdoa, tanpa mengusapkan tangannya ke makam beliau SAW. (kitab iqtidhaus shirathil mustaqim, hal 393).

Imam Nawawi ikut merekomendasikan hal yang sama seperti itu juga sebagaimana tertera dalam kitab karangannya, yaitu Al-adzkar dalam bab Ziarah, maupun kitab karangannya, yaitu Almajmu’ juz 8 hal 272.

Imam Alkhafaji pengarang Syarah Assyifa, menukil perkataan Imam Subki sebagai berikut: Disunnahkan bagi orang yang berziarah untuk datang ke makam kuburan Nabi SAW dengan menghadapkan dirinya ke makam serta membelakangi Qiblat, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi SAW, dan mengucapkan salam kepada Assyaikhain (Sy. Abu Bakar dan Sy. Umar). Setelah itu kembali ke tempat duduknya. (Syarah Assyifa, juz 3 hal 398).  
 
Sumber: http://pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=591

Minggu, 07 Oktober 2012

Si Pembunuh Dibebaskan Rasulullah melalui Mimpi

Kisah Islamiah pada pagi ini tentang bebasnya seorang ahli maksiat karena seorang Gubernur telah mimpi bahwa Rasulullah SAW menyuruh untuk membebaskannya.

Ceritanya ini sangat menyentuh hati dan perasaan hingga bisa jadi membuat pembaca meneteskan air mata tanpa di sadarinya.

Meski ahli maksiat, namun pemuda ini memiliki sisi kebaikan kala terjadi sesuatu dalam perjalanan hidupnya.
Pemuda itu menjadi pelindung salah seroang ahlul bait keluarga Rasulullah SAW.

Siapa saja yang mimpi telah bertemu dengan Rasulullah SAW adalah benar adanya, karena setan tak mampu meniru fisik Nabi Muhammad SAW dengan kehendak-Nya.

Yuk disimak Kisahnya.
Pada tahun 200-an Hijriyah, ada seorang Gubernur Baghdad yang sangat arif dan bijaksana serta memegang tali Allah SWT dalam memimpin lagi dermawan dan ulung dalam hal politik. Dialah Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab Al-Kuza'i.

Pada suatu malam, Ishaq bin Ibrahim ini tengah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan menitipkan suatu pesan.
"Lepaskan tawananmu....lepaskan si pembunuh itu....," perintah Rasulullah SAW kepada Ishaq bin Ibrahim dalam mimpinya.

Ishaq bin Ibrahim hanya menatap wajah seseorang yang rupawan dan terpaku.
Belum sempat Ishaq Ibrahim ini bertanya, Rasulullah SAW kembali berkata,
"Wahai Ishaq bin Ibrahim, lepaskan si pembunuh itu...," perintah Rasulullah SAW dalam mimpi.

"Astaghfirullah...ternyata aku hanya bermimpi," kata Isahq bin Ibrahim setelah sadar dari tidurnya.
Semalam ia bermimpi ada orang dengan wajah rupawan yang berani memerintahkan untuk melepaskan seorang pembunuh yang dipenjarakannya. Ia benar-benar penuh keheranan.
Betapa tidak, yang menyuruh demikian bukan orang biasa, tapi dialah orang yang sangat dicintai oleh Ishaq bin Ibrahim, selalu dipujinya setiap waktu dan setiap nafasnya.

Pada pagi harinya, semua keluarganya telah mendapati Ishaq bin Ibrahim wajahnya pucat dan gemetar. Sungguh hal yang tidak biasanya mereka lihat sebelumnya.

Pak Gubernur Menuju Penjara.
Gubernur Baghdad yang kurang lebih menjab 30 tahun ini segera saja bergegas dan bahkan tidak sempat sarapan dan berkata-kata sepatah klatapun kepada keluarganya. Sang Gubernur segera menuju kantor penjara dan langsung memanggil kepala penjara.

"Wahai kepala penjara, siapa saja semalam yang ditangkap dan dipenjara karena kasus pembunuhan," tanya sang Gubernur.
"Ini Bapak, silahkan dilihat," kata si kepala penjara sambil menyodorkan buku daftar tawanan.
"Tidak ada kasus pembunuhan tadi malam Pak," kata kepala penjara kepada Gubernur.

Sang Gubernur kembali lagi heran dibuatnya.
Tadi semalam dia jelas-jelas bermimpi bertemu dengan Rasululah SAW yang menyuruhnya untuk melepaskan si pembunuh, namun dari daftar tahanan menunjukkan bahwa kasus pembunuhan semalam tidak ada, yang ada hanya kasus pencurian saja.

"Apa tidak ada lagi daftar tawanan selain in?" tanya Sang Gubernur.
"Sebentar Pak, saya tanyakan ke beberapa anak buah saya," jawab kepala penjara.

Sang Gubernur masih tetap saja ngotot dan memerintahkan kepada anak bauahnya untuk mencari si pembunuh yang dilakukan tadi malam. Sang Gubernur sangat yakin sekali bahwa perintah Rasululah SAW selalu benar adanya.
Sang Gubernur dan anak buahnya tetap berupaya mencari si pembunuh yang tertangkap tadi malam bersama seluruh anggota pengawal penjara.

Tak berapa lama kemudian kepala penjara berserta seorang anak buahnya datang menhadap Gubernur.
"Apakah ada laporan tentang penangkapan seorang pembunuh tadi malam?" tanya Gubernur kepada salah satu anak buah kepala penjara yang berjaga tadi malam.
Kepala penjara belum mendata semuanya, maklumlah sang Gubernur datangnya terlalu awal, jadinya si kepala penjara masih berbenah dan mendata ualang daftar tawanan.

"Aaada Pak," jawab keduanya dengan dada berdebar.
Ternyata nama si pembunuh itu memang ada, tapi memang terlewatkan tunuk ditulis didaftar buku tahanan. Setelah ditelusuri, ternyata kertas yang bertuliskan nama si pembunuh sempat tercecer di atas meja dan baru saja ditemukan.

Apakah ini termasuk salah satu mukjizat dari Rasulullah SAW meski Beliau sudah meninggal. Wallahu A'lam.
Tapi Allah SWT memang Maha Mengetahui, dan melalui Rasulullah SAW lah Allah SWT mengabarkan.
"Sekarang juga panggil si pembunuh itu," perintah Gubernur kepada anak buahnya.

Si Pembunuh Melindungi Ahlul Bait Rasulullah SAW.
Akhirnya, datanglah orang yang dicari-cari gubernur tadi.
"Apakah benar engkau telah membunuh seseorang tadi malam?" tanya Gubernur kepada si pembunuh.
"Iiii...yaaa..., saya pembunuhnya," jawabsi pembunuh dengan wajah pucat dan badan gemetar karena takut.
"Seberat apakah hukuman buatku...," kata si pembunuh dalam hati.
Ketika ditanya mengenai sebab dia membunuh, sesekali dia tak mampu berkata apa-apa. Ketakutan tengah menguasi dirinya.

"Tenangkan dirimu...saya cuma mau engkau berkata dengan jujur," kata Gubernur menenagkan.
"Jujurlah wahai pemuda, berkatalah apa adanya, kemungkinan kami bisa mempertimbangkan hukuman untuk dirimu," kata Gubernur dengan bijak.

Tutur kata yang begitu ramah dari Gubernur ini mampu mendinginkan suasana. Terlebih si pembunuh tersebut dankali ini si pembunuh mulai bisa bernafas dengan stabil lagi.
Setelah tenang, si pembunuh mulai angkat bicara.
"Begini ceritanya Pak Gubernur," kata si pembunuh memulai ceritanya.

"Hari itu saya memang terpaksa, sungguh sangat terpaksa membunuhnya Pak," kata si pembunuh.
"Benarkah demikian...hmmm....," guman Gubernur.

Pemuda ini memang awalnya selalu akrab dengan minuman keras dan hali maksiat serta berzina. Pokoknya mo limo selalu jadi kesehariannya.
Pesta maksiat paling sering dilakukan di rumah bos mereka.
"Begitulah hari-hari saya Pak, sampai pada akhirnya...," kata pemuda yang ingin melanjutkan tapi dipotong oleh ucapan Gubernur.
"Ah...yang benar saja....," kata sang Guberneur penuh heran.
Kalau si pemuda ini ahli maksiat, lalu kenapa Rasulullah SAW menyuruhnya untuk melepaskan orang yang seperti ini.

"Sampai pada suatu hari, tiba-tiba saja bos saya datang dan membawa seorang gadis cantik nan rupawan ketika kami sedang pesta maksiat. Tapi, kali ini perempuan yang dibawa bos saya sangat cantik, tidak seperti perempuan biasanya. Tak sanggup lidah ini melukiskan secantik apa dia," lanjut si pemuda.
"Tolooong...," teriak si gadis berontak ingin melepaskan diri.

"Segera saja kami pun berlomba untuk untuk memperebutkan si gadis itu. Seperti itulah kebiasaan kami," kisah si pembunuh tentang hari-hari buruknya.
"Tapi Pak Gubernur, gadis ini sangatlah jauh berbeda dengan gadis lainnya. Kami sangat kagum dengan fisiknya yang aduhai.., dan akhirnya akulah yang berhasil membawa gadis itu. Aku membawa dia masuk ke kamar dan sesekali si gadis berontak dan ingin melarikan diri," tutur si pembunuh.

"Ketika saya ikat kaki dan tangannya, dan ketika saya akan menjamahnya layaknya suami sitri, si gadis berteriak dengan keras. Teriakannya melemahkan tubuhku ini. Aku pun gemetar oleh teriakan itu karena belum pernah ada gadis yan berteriak sedemikian rupa. Aku bertobat Pak Gubernur, aku benar-benar bertobat," jelas si pembunuh.
"Apa yang diteriakkan gadis itu?" tanya Gubernur.

Gadis itu berteriak demikian.
"Takutlah dengan Allah...takutlah dengan Allah...," teriak gadis itu.
"Takutlah dengan Allah....takutlah dengan Allah...Allah...Allah...takutlah...," teriaknya lagi.
"Takutlah dengan Allah...wahai Kakekku Muhammad....peliharalah dan jagalah kehormatanku....jagalah kehormatan kakekku Muhammad yang mengalir dalam tubuhku ini," teriak si gadis dengan suara lantang.

Karena teriakan itu, tiba-tiba saja tubuhku lemah tak berdaya seperti tersengat listrik. Pengakuan gadis itu telah membuatku membisu dan badanku kaku. Aku pun membatalkan misiku dan aku bersumpah akan menjaga gadis itu dengan jiwa dan ragaku agar dapat keluar dari lingkungan maksiat itu.

Wanita itu mengatakan bahwa dia telah ditipu oleh bosku yang dijanjikan pekerjaan sebagai penjual kurma dan dijanjikan pula perhiasan sebagai bonusnya hingga si gadis menuruti perkataan bosku.

Lalu kami pun dengan sembunyi-sembunyi untuk keluar dan pergi dari tempat maksiat itu.
Namun, tanpa diduga, kawan-kawanku memergoki kami dan ingin merebut gadis itu dari peganganku. Mereka ingin mendapatkannya, aku pun semakin kuat melindungi perempuan terhormat itu. Aku pun mencoba menjelaskan ke kawan-kawanku tentang alasanku melindunginya, tapi mereka tidak percaya dengan perkataanku.
Aku katakan kepada mereka bahwa gadis itu masih suci, dan merupakan salah satu keturunan orang yang saleh dan sangat mulia yang pernah hidup di dunia ini.

Lagi -lagi kawan-kawanku tak pecaya dengan perkataanku, malah mereka mencoba merebut kembali.
"Enak saja engkau ini, ah itu hanya alasanmu saja, cepat berikan gadis itu," kata mereka berkilah.

Akhirnya, terjadilah hal yang tidak diinginkan, kami saling berkelahi satu sama lain bak perang saudara hingga salah satu mati. Meski demikian salah seorang dari mereka tetap saja mencolak-colek gadis mulia itu, hingga aku mati-matian membelanya. Aku tak tega sedikitpun gadis itu disentuh oleh kawan-kawanku.

Segera saja aku suruh gadis itu untuk pergi dari tempat itu.
"Lari...cepat lari...jangan hiraukan aku...," kataku kepada gadis mulia itu.

Sambil berlari gadis itu berteriak.
"Semoga Allah menutupi aibmu seperti kamu menutupi aibku. Semoga Allah melindungimu sebagaimana kamu melindungiku...," kata gadis itu sambil berlari.
Itulah kata-kata terakhir pertemuanku dengan gadis itu. Sementara karena kawan-kawanku masih saja ingin mengikuti dan merebutnya, terpaksa aku bunuh kawanku itu.

Kawanku bersimbah darah, tewas oleh tanganku ini. Ia telah mati. Aku membunuhnya.
Itulah hari pertamaku menjadi pembunuh.
"Ada yang mati...ada yang mati...," teriak salah seorang temanku sambil lari berhamburan.
"Mendengar teriakan inilah masyarakat berduyun-duyun mendatangi mayat kawanku itu, sementara pisau dan darah masih ada di tanganku. Mereka pun membawaku ke sini dan begitulah ceritanya mengapa aku ditangkap Pak Gubernur," si pembunuh mengakhirni ceritanya dengan perkataan jujur.

Si Pembunuh Divonis Bebas.
"Aku sudah menduga, kalau engkau tidak salah wahai pemuda," jawab sang gubernur dengan santainya.
Ada yang heran, juga ada yang bingung dengan penuturan gubernur ini, terlebih lagi bagi si pembunuh itu.
"Mulai saat ini, engkau aku bebaskan dan perkaramu akan aku serahkan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," perkataan penutup dari Gubernur.

Sebelum Gubernur meninggalkan tempat, pemuda itu sempat diberitahu tentang mimpinya bertemu dengan Rasululah SAW dan sempat juga Pak Gubernur memberi hadiah kepada si pemuda. Namun, si pemuda menolaknya dengan alasan bebasnya dia sudah lebih dari segalanya.
Pak gubernur Ishaq bin Ibrahim ini meninggal dunia pada tahun  235 H.

Renungkanlah....

Betapa Rasulullah SAW sangat mendengar dan mengetahui siapa pun yang mencintainya, begitu juga dengan nasib orang yang mencintai Ahlul Bait keluarganya.